Wednesday, January 6, 2016

Zidane dan Guardiola

Zidane lawan Guardiola

Hallo, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang berita yang sedang hangat di mata netizen. Zinedine Zidane, adalah perjudian berikutnya dari Florentino Perez. Sang presiden Real Madrid nampaknya menjiplak formula dari Barcelona yang sebelumnya dan terbukti berhasil, seperti Pep Guardiola serta Luis Enrique, lalu terbukti mampu meraup beberapa gelar dan deretan kesuksesan.

Zinedine Zidane


Ketika Pep Guardiola pertama kali ditunjuk oleh Barcelona menggantikan Frank Rijkaard, nyaris semua orang mengerutkan dahi. Apalagi kemudian dirinya pernah gagal di 3 pertandingan awal Barcelona di musim 2008-2009. Guardiola diklaim masih anak bawang. Namun hanya dalam rentang waktu kurang dari setahun semenjak dirinya diremehkan, Pep mampu memberikan treble winner untuk Barcelona.

Insiden serupa terjadi enam tahun lalu. Barcelona lagi-lagi merekrut pelatih yang kurang berpengalaman, Luis Enrique. Mirip Pep, Lucho cukup diremehkan. Ia pernah gagal mengolah bintang sekelas Francesco Totti di Alaihi Salam Roma. Enrique hanya mampu mengangkat tim sekelas Celta Vigo naik ke papan tengah Laliga Spanyol. Akan tetapi di Barcelona, Luis Enrique mengulang sejarah Pep yaitu meraih treble winner di musim pertama.

Baik Pep Guardiola maupun Luis Enrique punya satu kunci: mereka sudah sangat mengenal klub. Guardiola serta Enrique paham betul jiwa Barca, bagaimana mengolah pola, dan hal-hal kecil lainnya. Mereka sudah merasa ‘seperti berada di rumah sendiri’, sebagai akibatnya banyak prestasi yang mereka torehkan.

Pep Guardiola


Ditunjuknya Zinedine Zidane pun sangat mirip. Zidane merupakan pemain Real Madrid saat menjuarai 2 gelar liga Champions. Zidane juga sudah pernah menangani Real Madrid Castilla, tim B Los Blancos. Tetapi yang membedakan adalah gaya permainan tim utama Madrid serta Barcelona.

Selama ini, Barcelona populer menggunakan kontinuitasnya. Meski ada Rijkaard, Pep, almarhum Tito Vilanova, Martino, dan Enrique yang menjadi pelatih, perpaduan yang diandalkan tetap sama, formasi 4-3-3. Konsep permainan pun sama: mengandalkan penguasaan bola dan penempatan posisi, yang diwariskan semenjak era Johan Cruyff.



Sebaliknya, Real Madrid kerap berganti pelatih dengan metode tidak sama. Pellegrini yang berkarakter menyerang, digantikan dengan Mourinho yang berkarakter bertahan. Kemudian Ancelotti yang mempunyai karakter serangan balik, dan Benitez yang bertahan. Meski formula yang dipakai orang lain adalah ala Barcelona, Zidane tampaknya akan lebih sulit untuk menangani tim utama Real Madrid.

No comments:

Post a Comment